SUARATERKINI, Tanjunpandan – Gubernur Provinsi Bangka Belitung, Erzaldi Rosman menyebutkan selama ini masyarakat di sekitar geopark di Pulau Belitung belum mendapat manfaat yang sebanding dengan promosi yang dilakukan terhadap geopark Belitung.
“Tahun 2019 ada sekitar 438.000 wisatawan, namun hanya 10% yang mengunjungi wisata berbasis kemasyarakatan, artinya masyarakat lokal Belitung hanya mendapat 10 persen dari keuntungan tersebut,” ujar Erzaldi ketika berdialog dengan pelaku wisata dari Kabupaten Belitung dan Belitung Timur di Tanjungpandan, Kamis (22/4).
Oleh karena itu menurutnya, wajar jika masyarakat komplen bahwa wisata berkembang tapi masyarakat belum merasakan dampaknya. Provinsi mendorong pembangunan homestay dan wisata-wisata baru, tapi masyarakat merasa bahwa dorongan dari pemerintah tidak berimbas pada peningkatan ekonomi masyarakat.
“Berdasarkan data ini, pemprov meminta masukan-masukan dari masyarakat agar dapat ditampung dan dicarikan solusi untuk meningkatkan ekonomi dari wisata. Terlebih, hari ini pulau Belitong ditetapkan secara resmi sebagai anggota geopark dunia, harus ada nilai tambah dari hal ini,” tambah Erzaldi.

Menurutnya, banyak hal yg harus dilakukan dalam mengemas wisata ini. Pulau Belitung memiliki 17 daerah wisata geosite, pengemasan harus dikhususkan terlebih dahulu pada 17 geosite tersebut.
“Apa yang harus ditingkatkan terkait manajemennya, sdmnya, dan pengelolaan sda nya. Harus juga ada kemauan dari desa untuk mengeluarkan biaya dan program, begitu juga provinsi dan pemkab nanti akan mengeluarkan biaya untuk pengelolaan,” katanya.
Wakil Gubernur Bangka Belitung Abdul Fatah menambahkan, dengan ditetapkannya geopark Belitong sebagai geopark dunia, pariwisata Belitong naik kelas. Pelaku wisata harus responsif terhadap perubahan dari geopark domestik ke internasional ini.
“Pelaku wisata harus sudah membenahi diri. Saat ini tantangannya adalah bagaimana mempercantik geosite agar lebih menarik dan unik sehingga menarik wisatawan dunia berkunjung,” ujar Abdul Fatah.
Sementara itu, pelaku industri wisata Belitung, Agus Pahlevi, mengatakan kebanyakan geosite di Belitung masih bermasalah pada aksesibilitas dan sarana penunjang. Contohnya beberapa geosite belum menyediakan toilet bagi pengunjung.
“Kemudian ada geosite-geosite yang knowledge productnya belum sepenuhnya diketahui sehingga belum bisa dipasarkan secara maksimal. Travel agent-travel operator (TA/TO)bisa membantu masyarakat/komunitas wisata di geosite agar dapat mempercantik produknya dalam marketing agar wisatawan tertarik berkunjung,” ujar Agus.
Ia menuturkan, masyarakat desa wisata di Belitung dapat berbagi informasi terkait produk yang diunggulkannya, sehingga TA/TO bisa menyesuaikan dengan segmen pasar.
Menurutnya, ada beberapa stimulus yang bisa dilakukan. Pertama, biasakan pemerintah daerah dan masyarakat mengunjungi destinasi wisata lokal. Biasanya ada kunjungan dari pusat, bisa dilakukan di desa wisata, sembari membiasakan pengelola destinasi melayani tamu.
“Kedua, bisa dibuat peraturan yang mewajibkan semua TA/TO membawa tamu ke destinasi lokal, seperti aturan di Thailand bahwa TA/TO nya akan diberi sanksi jika tidak membawa turis ke destinasi lokal,” tutup Agus. (wil)