Agrofood Expo 2023 Bersama Indonesia FoodDrink Expo dan Ketahanan Pangan Indonesia Expo Digelar

AdvertisementAds

SUARATERKINI, Jakarta – Pameran produk unggulan hasil pertanian, makanan dan minuman olahan, teknologi Agrofood Expo bersama FoodDrink Expo dan Ketahanan Pangan Indonesia Expo digelar mulai Kamis (10/8) di Hall A JIEXPO Kemayoran Jakarta.

Berlangsung selama 4 hari (10-13 Agustus), di area seluas 2700 m2, menghadirkan sekitar 100 pelaku usaha di sektor agribisnis, agro industri, BUMN, Swasta, pemerintahan daerah dan sejumlah asosiasi diantaranya Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia/Gapmii, Masyarakat Pertanian Organik Indonesia/Maporina, Himpunan Kerukunan Tani Indoensia/HKTI, Cofee Lover Indonesia dan Artisan Tea.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Kementerian Pertanian, Dr. Prayudi Syamsuri dalam sambutannya pada pembukaan Agrofood Expo 2023 mengapresiasi komitmen penyelengara Wahyu Promo Citra yang memfasiliasi berbagai pihak dan stakesholder terkait sehingga pemeran ini bisa terlaksana selama lebih dari 20 tahun.

Menurutnya, untuk mencapai pertanian yang maju, mandiri dan modern untuk mewujudkan kedaulatan pangan sangat dibutuhkan peranan ekosistem pelaku usaha pertanian yang dikembangkan secara komprehensif dan terpadu.

Mengingat, sektor pertanian terbukti menjadi satu-satunya sektor yang tangguh di masa pandemi Covid-19. Pada saat bersamaan pertanian juga harus siap berhadapan dengan tantangan bangsa, terkait penyediaan pangan untuk mampu bertahan di krisis global dan energi.

BACA JUGA:  Ingin Dapat Kuota Hingga 300GB dari XL Begini Caranya

Karena itu, lanjut Prayudi Syamsuri, penguatan pembangunan komoditas perkebunan menjadi agenda prioritas untuk akselerasi kedaulatan pangan. Gelaran Agrofood Expo, menurutnya menjadi momentum strategis untuk memperkuat ekosistem pertanian yang lebih konprehensif dan terpadu, dari hulu hingga hilir.

“Hilirisasi pertanian juga harus diperkuat oleh kegiatan promosi dan advokasi yang dilakukan secara terintegrasi salah satunya melalui pameran Agrofood Expo ini. Promosi bukan sekedar untuk mempertahankan pasar, tetapi juga memperluas pasar.

Sedangkan advokasi memperkuat nilai suatu produk pertanian. Terutama sawit bagaimana melalui advokasi bisa terbentuk opini cinta sawit yang memiliki nilai tambah sebagai produk olahan makanan dan bisnis pangan yang sangat prospetif,” pungkas Prayudi

Berkonsep memadukan B to B (Bussiness to Bussiness) dengan B to C (Bussiness to Customer), Agrofood Expo ini menurut Direktur Utama Wahyu Promo Citra Sukur Sakka, berkonjungsi dengan sejumlah zona khusus sesuai dengan sektor bisnis terkait, yaitu FoodDrink Expo, IIMA (Indonesia Machinery Agriculture ), Gastronomy Festival (pameran makanan & minuman olahan) dan Coffee, Cocoa, Tea Festival. Dengan begitu, ekosistem pelaku usaha yang terbentuk menjadi semakin kondusif bagi perluasan akses pasar.

BACA JUGA:  Perjalanan 25 Tahun Archipelago International di Dunia Perhotelan

Pada kesempatan ini juga sekaligus peluncuran Coffee Lovers Preference Taste (CloPT), sebuah metode pengujian kualitas dan cita rasa kopi yang diinisiasikan oleh Jamil Musanif dan Putri Siswandewi.

Agrofood Expo menjadi ajang yang efektif untuk mempertemukan kebutuhan petani, pekebun, pelaku agribisnis dengan potensial pembeli. Adapun komoditas yang ditawarkan dalam pameran ini merupakan unggulan dan dibutuhkan pasar, meliputi komoditas pertanian, perkebunan, produk olahannya, seperti kopi, tea, kakao, beras, rempah-rempah, dan sebagainya.

Sejumlah brand dari industri makanan olahan juga hadir sebagai komoditas pangan unggulan, diantaranya Bola Deli, De Health Supplies, Filma & Palmboom, dan sejumlah pelaku usaha kopi seperti PT Langgeng Mitra Kencana (LMK) . Untuk industri packaging makanan dihadirkan Blis & Kiyomi.

“Dalam sesi Buyers Meet Sellers memberikan kesempatan yang luas bagi pelaku usaha pertanian untuk saling berjejaring sekaligus sharing pengembangan bisnis, promosi, pemasaran sekaligus pemanfaatan teknologi agiribisnis yang tepat guna untuk meningkatkan daya saing produk pertanian di pasar global,” pungkas Sukur Sakka.(red/her)