Untitled Document

BAZNAS Luncurkan Kampung Tanpa Asap Rokok PERISTIWA

BAZNAS Luncurkan Kampung Tanpa Asap Rokok
Kepala Rumah Sehat BAZNAS (RSB) Indonesia dr. Meizi Fachrizal Achmad, M.Si (kanan), didampingi tokoh masyarakat Bantul Mbah Tujilan (kedua kanan) meresmikan program Kampung Tanpa Asap Rokok di Dusun Sulangkidul, Desa Jetis, Kabupaten Bantul, Yogyakar


Suaraterkini.com - Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) meluncurkan program pemberdayaan masyarakat bertajuk Kampung Tanpa Asap Rokok (KTAR). "Menurut data seperti pernah diteliti dan ditulis Profesor Dadang Hawari bahwa 90 persen pengguna narkoba berasal dari perokok. Karena itu, kita daftarkan ini sebagai bagian dari list program Zakat for SDGs. Dari 17 poin Sustainable Development Goals yang merupakan program Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), ini masuk bidang kesehatan," ujar Kepala Rumah Sehat BAZNAS (RSB) Indonesia dr. Meizi Fachrizal Achmad, M.Si, usai meresmikan KTAR di Dukuh Sulangkidul, Desa Jetis, Kabupaten Bantul, Yogyakarya, Sabtu (25/11).

Hadir Manajer RSB Yogyakarta dr Tria Meilla Retnaningtyastuti, Kepala Bagian CSR Iman Damara, Koordinator Bagian Kesehatan Deasy, Kabag Humas  BAZNAS Yudhiarma MK dan tokoh masyarakat Bantul, Mbah Tujilan."Program ini terdapat di beberapa titik di Indonesia termasuk di Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung, tempat Rumah Sehat BAZNAS-PT Timah," ujar dr. Fachri.

Dia menjelaskan, KTAR adalah program pemberdayaan masyarakat yang ditargetkan dalam 2 tahun bisa dikembangkan menjadi program nasional yang diterapkan BAZNAS di seluruh Indonesia.Pencanangan KTAR disambut hangat oleh warga. "Alhamdulillah kini semangat tanpa asap rokok semakin besar," ucapnya.

Menurut dia, semula banyak warga yang keberatan terhadap ide tersebut, sehingga setiap ada kegiatan mereka lebih suka berada di luar ketimbang dalam rumah untuk menghindari imbauan tidak merokok. "Tapi karena tim RSB Yogayakarta gencar melakukan persuasi dan sosialisasi, kini warga sadar dan ikut mengampanyekan gerakan ini," kata dr. Fachri.

Kini warga yang ingin merokok tak lagi melakukannya di tempat ibadah, sarana pendidikan, pekarangan, dalam rumah dan sejenisnya. "Ini dibuat agar seluruh warga, baik perokok maupun bukan, merasa nyaman," katanya.

Hal sama disampaikan tokoh masyarakat Bantul, Mbah Tujilan Menurut dia, larangan merokok juga berlaku bagi para pendatang atau tamu yang berkunjung ke permukiman warga. Dia menandaskan, warung-warung rokok juga ikut mendukung dengan tidak memasang poster dan iklan rokok, menganjurkan orang tua mengganti rokok dengan permen atau jamu serta melarang anak-anak membeli rokok.

"Kami mengerahkan warga menempelkan stiker larangan merokok di teras rumah dan menyiapkan asbak khusus yang terbuat dari bambu untuk menampung rokok yang telah dimatikan dan wajib dibuang," katanya. Tujilan menandaskan, memang tak ada paksaan untuk mengikuti aturan yang telah disepakati bersama, tetapi lambat laun warga mulai malu merokok.

"Tidak ada hukuman yang diterapkan kepada warga. Kalau mereka ingin merokok yang penting tidak terlihat di mata umum," tuturnya. Dia menambahkan, kini anggota keluarga masyarakat juga sudah memiliki kesadaran yang baik tentang bahaya merokok. Pecandu rokok akan malu sendiri bila merokok diketahui oleh tetangga hingga anak-anak. "Sosialisasi ini juga diikuti remaja dan pemuda. Mereka turut menegur kalau ada pedagang lewat atau warga yang melintas sedang merokok," ucapnya.

Tujilan mengaku kebiasaan merokoknya mulai berkurang sejak ada KTAR. "Saya perokok berat, tapi tidak separah dulu. Kebiasaan merokok berkurang mungkin karena 'larangan' di rumah, jadi terbawa ke mana-mana," ujarnya.

Di tempat yang sama, Manajer RSB Yoguakarta dr. Tria memaparkan kinerja instansinya. Dia menjelaskan, selama Januari-Oktober 2017, Rumah Sehat BAZNAS sudah memiliki peserta yang terdiri atas 6.958 kepala keluarga (KK) atau 17.716 jiwa. Mereka berasal dari kalangan kaum dhuafa atau asnaf fakir dan miskin. Dalam rentang waktu yang sama, RSB telah melayani total 37.297 penerima manfaat.

“Kita sudah menyalurkan hampir dua miliar rupiah untuk pelayanan kesehatan gratis 37.297 warga kurang mampu di Bantul, Yogyakarta dan sekitarnya. Ini adalah rumah sehat yang didirikan BAZNAS bekerja sama dengan Metro TV dan Universitas Islam  Indonesia (UII) Yogyakarta,” ujarnya. Dokter Tria merasa kedatangan tim BAZNAS Media Center (BMC) dan Humas BAZNAS pusat menjadi kejutan karena bertepatan dengan peringatan  soft launching ke-6 RSB Yogyakarta.

Dia menjelaskan, bangunan dua lantai yang berdiri di atas lahan seluas 1.500 meter persegi di Jalan Imogiri Barat, Desa Timbulharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, ini, menyediakan pelayanan kesehatan dalam gedung dan luar gedung. Tria memaparkan, pelayanan kesehatan dalam gedung terdiri atas pelayanan dokter umum dan dokter gigi, unit gawat darurat (UGD), konsultasi gizi, pelayanan kesehatan ibu dan anak, konsultasi psikologi dan laboratorium. Sedangkan pelayanan kesehatan luar gedung meliputi program-program seperti Unit Kesehatan Keliling, Program Anak Sekolah Sehat, Mitra Keluarga Pra Sejahtera, Tim Kesehatan Tanggap Bencana yang berkolaborasi dengan BAZNAS Tanggap Bencana (BTB).

"Tahun 2017 kami ada Program Pemberdayaan Kesehatan Berbasis Masyarakat atau community development, di antaranya Omah Cegah Dimensia, Pilah Sambah, Kawasan Sehat Bebas Asap Rokok, Taman Gizi dan Pilah Sampah, " kata dr. Tria.

Dia memaparkan, pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) RSB se-Indonesia ke-5 yang diselenggarakan tanggal 25-28 Oktober di Yogyakarta, RSB Yogyakarta meraih penghargaan "tata kelola terbaik". “Kami terus mempersembahkan kinerja terbaik agar pelayanan kesehatan terhadap kaum dhuafa semakin optimal," ucapnya.

Dia mencontohkan soal pelayanan kesehatan gratis yang dapat diperoleh dengan cara yang sangat mudah. "Jadi masyarakat tak mampu cukup menjadi peserta Rumah Sehat BAZNAS Yogyakarta," katanya. Dan untuk menjadi peserta lanjut dr. Tria, prosesnya sederhana. Mustahik cukup mendaftar dengan menyertakan surat keterangan tidak mampu dan menunggu hasil survei dari petugas. "Bila memenuhi syarat, akan otomatis terdaftar sebagai peserta,” ujarnya.

Soft launching RSB-Metro TV-UII ini digelar 25 November 2011 oleh pejabat ketika itu, yakni Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Politik Kebijakan, Bambang Sulistomo dan Kepala Dinas Kesehatan DIY, Sarminto dan Wakil Bupati Bantul, Sumarno. Kemudian diresmikan pada 16 Januari 2012. Tria menegaskan, kepuasaan masyarakat terhadap pelayanan adalah prestasi tertinggi. Karena, menurut dia, sesuai dengan moto pelayanan RSB, pihaknya wajib memberikan pelayanan kepada dhuafa secara humanis dan profesional.

“Walaupun gratis kami tidak memberikan pelayanan secara asal-asalan atau seadanya, pelayanan prima  atau _service excellent_ kami tetap jaga dan utamakan,” kata dokter kelahiran Ngawi, Jawa Timur, 1986 ini. Setelah resmi beroperasi sejak tahun 2011, jelas dr. Tria, RSB terus tumbuh menjadi pusat kesehatan kaum dhuafa.

Dia menyebutkan, sukses mengembangkan beberapa program pengobatan, ke depan RSB akan fokus pada aspek promotif dan preventif. “Kami berharap RSB nantinya tidak hanya fokus pada kuratif atau pengobatan. Sesuai dengan visi RSB bahwa aspek promotif dan preventif harus dikedepankan, PR kita adalah bagaimana RSB tidak hanya menyembuhkan tapi juga ‘mencerdaskan’ para mustahik dalam bidang kesehatan,” ucap alumni Fakultas Kedokteran UII Yogyakarta ini.



Berita Terkait

AXA Mandiri Luncurkan Pelayanan Kesehatan VIP

22 Feb 2019, 10:38

Kesadaran masyarat Indonesia akan pelayanan dan fasilitas kesehatan terus meningkat, hal ini terlihat dari banyaknya masyarkat yang berobat ke luar negeri, untuk itu PT AXA Mandiri Financial Service ...