Untitled Document

Prestasi Tidak Melulu Dilihat Dari Angka PENDIDIKAN

Prestasi Tidak Melulu Dilihat Dari Angka


Suaraterkini.com - Ujian akhir, menjadi tanda berakhirnya perjuangan seorang siswa di sekolah tempat mereka menimba ilmu. Momen ini biasanya diikuti dengan acara pelepasan, wisuda atau istilah lain yang lazim mereka gunakan. 

Menurut Sri Wahyuning Astuti,  Orang tua merasa lega saat anak berhasil menyelesaikan studi. "Sayangnya, rasa lega ini sering kali tidak berbanding lurus dengan pemandangan di depan mata, saat acara perpisahan diikuti dengan pengumuman siswa berprestasi, tentu untuk orang tua yang anaknya menjadi bagian dari yang diundang maju ke depan akan berbahagia" ungkap Sri yang juga Kandidat Doktor di Universitas Padjajaran Bandung Ini.

Momentum pengumuman prestasi anak di tanggapi biasa oleh sebagain orang tua dengan ungkapan “ah biasa aja, kan setiap anak berbeda kemampuannya”. Tapi lagi-lagi kita tidak bisa mengharapkan semua orang tua memiliki pemikiran yang sama. Banyak orang tua yang akhirnya melakukan pembandingan dan menjadikan anak yang “berprestasi” menurut standar sekolah sebagai acuan.

Membanding-bandingkan anak, lanjut Asrie justru itu yang akan membuat anak memiliki konsep diri yang negatif, anak akan merasa dirinya tidak pintar dan terjebak dalam stigmatisasi dirinya bodoh. 

"Membandingkan anak hanya akan “melukai” dan membuat anak merasa dirinya tidak berarti. Banyak orang tua yang menjadikan standar kepintaran anak hanya dari faktor kognitif," tambahnya.  

Padahal hasil akhir belajar tidak hanya dari faktor kognitif saja. Perubahan afektif dan psikomotor juga menjadi bagian yang tidak bisa diabaikan" tutur Asrie yang juga dosen Universitas Mercu Buana Jakarta. 

Mengutip Dalam bukunya apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan? Adi Gunawan penulis buku memaparkan dengan gamblang bahwa “Sistem ranking itu adalah sistem yang tidak adil dan berbahaya bagi perkembangan konsep diri anak karena yang menjadi patokan selalu nilai rata-rata.... Jika sebuah kelas terdiri dari 40 anak, maka semakin rendah rankingnya berarti semakin bodoh anak itu. Anak berpikir secara linier dan cenderung akan menerima kenyataan bahwa ia bodoh karena berada di ranking bawah. 

Senada dengan Adi, Psikolog Universitas Mercu Buana Melani Aprianti menjelaskan, selama ini sekolah dan orang tua selalu terjebak dengan sistem rangkingisasi, sehingga kesuksesan anak hanya diukur dari diurutan keberapa rangking di sekolah. Orang tua akan merasa sangat resah, saat mengetahui anak mereka sepintar anak lain khususnya dibidang akademik. 

Melani menegaskan, belajar adalah suatu proses sehingga tidak hanya bisa mendasarkan pada hasil akhir saja, perubahan sekecil apapun dari proses belajar perlu diapresiasi.  

"Jika mendasarkan pada teori Multiple Intelligence, dalam dunia pendidikan tidak ada anak yang bodoh. Anak memiliki kemampuan yang berbeda pada tiap aspek. Ada anak yang unggul dibidang musik, ada yang bahkan sangat ahli menggambar dan ada yang bisa berlari secepat kilat saat melakukan olah raga lari. Lalu apakah mereka yang tidak memiliki kemampuan itu dianggap “bodoh”? tentu tidak" jelasnya. 

Seharusnya, kita sangat bangga jika anak-anak kita memiliki empati yang tinggi, mau membantu teman yang lain, atau dengan sigap memberikan pinjaman catatan untuk siswa yang lain yang tidak mengikuti pelajaran, ungkap Melani. 

Karena itulah untuk kedepannya, ada penjelasan khusus dari sekolah atas kriteria yang dijadikan standar prestasi agar tidak menimbulkan pertanyaan lanjutan dari orang tua. Selain itu, tidak ada salahnya dalam setiap medali yang dikalungkan ke anak-anak ada penghargaan yang layak diterima mereka, seperti miss empati, miss smiley, miss ramah, miss sosial dan sikap positif lainnya yang bisa disematkan kepada mereka, berdasarkan pengamatan selama melakukan studi di sekolah, harapnya.



Berita Terkait